K.H Abdurrachman Sosok Seorang Pengasuh Pondok Pesantren dan Penulis Ilmu Faroid

Temanggung.  Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tembarak Kabupaten Temnaggung yang diketuai oleh Sirbanun dan para anggotanya, pada tahun 1970 merasakan keprihatinan yang mendalam atas kondisi generasi muda di daerahnya yang minim sekali mempunyai pemahaman agama yang benar sesuai dengan ajaran Islam. Padahal dengan mempunyai pemahaman  agama yang benar, menjadi syarat pokok dan mendasar bagi seseorang untuk mengarungi kehidupupan yang sesungguhnya. Kepandaian seseorang di bidang ilmu pengetahuan apapun jika tidak didasari dengan pemahaman dengan agama yang benar, tidak akan berarti sama sekali dalam hidup. Karena manusia diciptakan hidup di dunia ini tidak ada tujuan lain kecuali hanya untuk beribadah kepada Allah ta’la semata dan tidak ada tujuan lainnya.  

         Cabang Muhammadiyah Tembarak yang pada tahun 1970 menerima tanah wakaf dari Pengurus Ranting Muhammadiyah Purwodadi Tembarak yang diketuai oleh Muhsymsi yang berukuran 20 X 30 m2 beserta bangunan rumah  setengah jadi, yang berdiri di atasnya dan berlokasi di Dusun Temanggungan Desa Purwodadi. Sejak menerima tanah wakaf hingga beberapa tahun kemudian, kondisi tanah wakaf tersebut terkatung-katung pembangunannya dan belum terberdayakan dengan baik. Para pengurus Muhammadiyah Cabang Tembarak yang setelah menerima tanah wakaf mengadakan beberpa kali rapat secara intensif, bertujuan untuk mematangkan  penggunaan tanah wakaf yang dimiliknya untuk kemaslakhatan ummat.

         Beberapa kali para pengurus Cabang Muhammadiyah banyak mengusulkan berbagai masukan untuk segera mungkin mengoptimalkan penggunaan tanah wakaf yang dimilikinya, akhirnya para pengurus mengadakan rapat pada tahun  1980 di rumah Haji Ngudi Mukti  di dusun Greges Kecamatan Tembarak yang dihadiri oleh semua pengurus Pimpinan Muhammadiyah Cabang Tembarak. Adu argumentasi dari para peserta rapat yang satu sama lainnya saling memberikan alasan dan masukan dan serta saling mempertahankan gagasannya masing-masing, membuat suasana rapat semakin ramai dan sama-sama kuat. Akhirnya keputusan akhir dalam rapat menyetujui bersama secara serempak untuk mendirikan pondok pesantren bertepatan pada hari Senin, 15 Muharom 1403 Hijriyah / 01  November 1982 Masehi dengan nama “Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah”, yang didirikan oleh Muhammadiyah Cabang Tembarak.

         Kondisi tanah wakaf meskipn sudah berdiri sebuah bangunan rumah setengah jadi dan belum bisa digunakan untuk suatu kegiatan, akhirnya dalam rapat tersebut sekaligus membentuk pantia pembangunan yang para pengurusnya terdiri H Ngudi Mukti, H Thohir dan Sukaton Pamuji. sebagai ketua pemabangunan, Asrofi sebagai Sekretaris dan Istichori sebagai  Bendahara pembangunan.

         Langkah panitia pembangunan yang setelah dibentuk kepanitiaan langsung mengumpulkan seluruh pimpinan ranting muhammadiyah Secabang Tembarak yang terdiri dari sebelas ranting yang terdiri dari ranting Drono yang diketuai oleh Suratman , Ranting Gendon yang diketuai oleh Jahri, Ranting Ngawen yang diketuai oleh Turat, ranting Greges yang diketuai oleh H Amin, Ranting Menggoro yang diketuai oleh H Makhali, Ranting Bumiayu yang diketuai oleh Zaenuri, Ranting Bagusan Yang diketuai oleh Dimyati, Ranting Ngadipiro yang diketuai oleh Muhtadi, Ranting Purwodadi yang diketuai oleh Muhsyamsi, Ranting Tlodas yang diketuai oleh Ismail dan ranting Selopampang yang diketuai oleh Zubaidi.

         Kondisi tanah wakaf meskipun sudah terdapat bangunan rumah yang bertembok dan belum sempurna, tetapi sebagian pondasi belum terisi tanah dan membutuhkan tanah urug untuk  segera bisa dipasang batu bata. Rapat panitia pembangunan yang  memutuskanan bahwa secara bergiliran semua ranting Muhammadiyah secabang Tembarak untuk kerja bakti dan bergiliran, menjadi kesepakatan dan diputuskan untuk mengurug pondasi bangunan  yang membutuhkan tanah urug dengan jumlah yang banyak.

         Dalam pelaksanaan kerja bakti, masing-masing ranting akhirnya melaksanakan tugas secara bergiliran sesuai jadwal. Ranting Drono yang terletak diujung utara dengan jarak lebih dari satu kilometer,  dengan berjalan kaki mereka membawa cangkul, minuman dan makanan. Beberapa ranting lainnya yang letak dusunnya  lebih dekat dan tidak begitu jauh dengan lokasi tanah wakaf, mereka rata-rata berjalan kaki juga untuk menuju pondok dan dilokasi tempat kerja bakti yang mau difungsikan untuk pondok pesantren. Para bapak, para ibu, anak-anak, dan para remaja yang ikut juga dalam kerja bakti di masing-masing ranting, mereka penuh semangat saat tiba gilirannya. Aneka jenis makanan seperti nasi jagung yang menjadi ciri khas masyarakat di Tembarak, mudah dijumpai disetiap hari di waktu kerja bakti. Para orang tua berusia lanjut yang fisiknya masih sama sehat, mereka tampak ikut kerja bakti juga dan berasal dari beberapa ranting di cabang Tembarak.

         H Ngudi Mukti dan H Thohir yang mengetahui secara persis kondisi bangunan yang ada dan belum bisa dipakai sama sekali untuk sebuah kegiatan dan telah diputuskan untuk didirikan  pondok pesantren, beliau berdua tergerak untuk membelikan keperluan semua atap bangunan rumah yang berupa asbes.  Setelah asbes yang dibelikan terpasang, bangunan tersebut akhirnya bisa ditempati meskipun dinding dan lantainya belum  sempurna dan masih membutuhkan banyak penyempurnaan.

         Panitia pembangunan yang telah bekerja keras, dituntut menyempurnakan bangunan supaya segera bisa digunakan, mendapat kepercayaan penuh sesuai dengan hasil rapat. Konsolidasi dengan para pimpinan cabang dalam rangka penggalangan matrial bangunan,  memudahkan mereka dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya. Setelah bangunan yang dibangun bisa ditempati dan digunakan meskipun apa adanyadan belum sempurna, para panitia pembangunan mengadakan rapat kembali dan membahas tindak lanjut dari musyawarah-musyawarah sebelumnya bersama dengan para Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tembarak.

         Donatur pembangunan yang terdiri dari H Ngudi Mukti, H Izzudin, H Abdul Malik, H Thohir, H Ramelan dan H Makhali, mereka menjadi donatur utama dalam pembangunan pondok pesantren. Berbagai kebutuhan material  yang berasal dari para donatur dan para muhsinin lainnya, jumlahnya mengalami kenaikan dan bisa digunakan untuk menyelesaikan pembangunan dan bisa difungsikan seperti yang direncanakan.

Sosok Seorang Kyai yang dicari.

         Sirbanun yang menjabat sebagai Ketua Cabang Muhammadiyah Tembarak, bersama dengan para pimpinan lainnya, mengadakan rapat intensif untuk mengoptimalkan keberadaan pondok pesantren yang telah diputusan di tingkat cabang. Kyai Abdurrachman yang merupakan sosok seorang kyai yang berdomisili di Bumiayu Tembarak, disepakati pada rapat tersebut untuk diboyong ke pondok pesantren milik Cabang Muhammadiyah  Tembarak yang beralamat di Dusun Temanggungan Desa Purwodadi dan menetap di pondok bersama dengan para santri. Setelah adanya pendekatan dari para pengurus Muhammadiyah Cabang kepada beliau, dengan kerendahan hati beliau Kyai Abdurrachman menyanggupi untuk menetap di pondok dan meninggalkan rumah yang berada di Desa Bumiayu. Semua anak beliau yang setelah dimintai ijin untuk pindah rumah dan menetap di pondok memberikan dukungan dan dorongan, hati beliau merasa lega.

         Beberapa ruang kamar yang menyatu dengan bangunan pondok yang baru saja selesai dibangun  pada 1982, siap untuk ditempati oleh beliau Kyai Abdurrachman. Selang beberapa hari kemudian, para pengurus cabang Muhammadiya langsung memboyong Kyai Abdurrachman ke pondok. Kabar kepindahan Kyai Abdurrachman yang sudah menetap di pondok bersama istri yang bernama Maktubah, tersebar luas diseluruh ranting secabang Muhammadiyah Tembarak.  Hausnya akan ilmu agama dari warga yang mau belajar ilmu agama, selang beberapa hari kemudian para remaja banyak berdatangan ke pondok disetiap sare hari hingga setelah shubuh dan belajar mengaji kepada Kyai Abdurrahman. Berbagai kitab kuning yang diajarkan oleh Kyai Abdurrohman, diajarkan kepada para remaja yang memang butuh terhadap ilmu-ilmu agama.

         Kyai Abdurrachman yang merupakan anak sulung dari empat bersaudara  dari pasangan Thoyubi dengan Marfuatun,  lahir di Tembarak pada tahun 1917. Beliau mempunyai tujuh orang anak, lima laki-laki dan dua perempuan. Jumlah cucu keseluruhannya sembilan belas orang. Masa kecil beliau setamat dari Sekolah Rakyat (SR) di Tembarak, beliau nyantri di Pondok Pesantren Salakan Payaman Magelang dan melanjutkan belajar nyantri ke Pondok Pesantren Poncol Beringin Salatiga. Sekembalinya dari pondok, beliau aktif berorganisasi dan menjadi pengurus partai politik. Keaktifan beliau di organisasi menambah pengalaman dan wawasan dan berpikir lebih luas, sehingga ide-ide yang dimiliki beliau membuka cakrawala baru dan berpandangan luas.

Mempunyai kemampuan keagamaan yang luas  

         Para santri Kalong yang merupakan cikap bakal adanya para santri yang belajar kitab kuning kepada Kyai Abdurrachman, mereka berasal dari lingkungan sekitar dari berbagai kampung dilingkungan kecamatan Tembarak. Bahkan rata-rata usia mereka hiterogin, mulai dari usia tingkat sekolah lanjutan pertama, sekolah lanjutan atas hingga usia  menjelang dewasa baik putra maupn putri. Waktu mengaji mereka terbagi menjadi berbagai kelompok mulai kelompok waktu sore hari, waktu malam hari dan waktu setelah shubuh. Keadaan yang demikian,  diikutinya dengan penuh ketekunan. Pagi harinya mereka itu  pulang kembali ke rumah asal masing-masing dan berlangsung cukup lama selama beberapa tahun sejak kyai Abdurrachman berada di pondok. Model mengaji yang bentuknya berupa Sorogan,  masing-masing  santri sama menghadap langsung kepada kyai saat mempelajari sebuah kitab kuning yang diajarkan. Berbagai jenis kitab kuning yang  terdiri dari  kitab Kitab Ajrimiyah, Kitab Taqrib, Kitab Bulughun Marom, Kitab Akhlaq Lilbanin , Lafal Makna Al-qur’an, Tafsir dan beberapa jenis kitab kuning lainnya, kesemuanya diajarkan oleh Kyai Abdurrachman.

         Para santri yang lebih awal menyelesaikan sebuah kitab kuning atau tamat, mereka disuruh oleh Kyai Abdurrachman untuk memberikan pengajaran kepada santri lain yang tingkatannya lebih rendah. Model yang diterapkan oleh Kyai Abdurrachman  semacam itu, membuat antar sesama santri lebih akrab dan mudah berinteraksi. Sehingga kitab-kitab yang dijarkan oleh beliau bisa dipelajari dengan sesama teman lainnya sesama santri. Hanya saja bagi santri yang tingkat kemampuan kitabnya masuk dalam katagori lebih tinggai dibanding lainnya, dia bertugas memberikan untuk mengajarkan kepada santri lainnya atas perintah dan saran dari beliau Kyai Abdurrachman.

         Kelompok mengaji dari para bapak di lingkungan sekitar Desa Purwodadi,  meraka juga  belajar mengaji pula kepada Kyai Abdurrachman dengan cara berkelompok dan mempelajari sebuah kitab tertentu yang salah satu kitabnya bernama “Faroid”,  dan kitab jenis lain dengan sistem mingguan. Tiap satu minggu sekali mereka datang ke pondok  dan belajar bersama-sama kepada  beliau Kyai Abdurrachman yang waktunya sore hari. Para remaja putri dari lingkungan sekitar, mereka juga mengaji yang bentuknya mingguan atau seminggu sekali  kepada Kyai Abdurachman meskipun mengaji juga di setiap hari.  Ktab Jaal Mani’  Zalal Mani’ merupakan salah satu jenis kitab yang diajarkan oleh Kyai Abdurrachman kepada khusus remaja putri, kandungan isinya yang membahas secara detail mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan masalah kewanitaan seperti masalah haid, nifas  dan  sejenisnya, dibahas secara rinci di dalam kitab tersebut dan berkaitan erat dengan fiqih.

         Seiring berjalannya waktu, keberadaan Kyai Abdurrachman sudah menetap di pondok, beliau sering kali memberikan pengajian kelilig di beberapa ranting yang ada di Cabang Muhammadiyah Tembarak dan sekitarnya. Pada acara-acara tertentu, Kyai Abdurrachman juga sering diminta untuk memberikan pengajian dan menyanggupinya. Karena mereka sangat butuh terhadap ilmu beliau, Kyai Abdurrachman jarang sekali menolak. Keadaan lampu penerang yang masih berbahan bakar minyak tanah di tahun 1982 dan penerangan listrik belum masuk di wilayah kecamatan Tembarak, jika waktu malam hari Kyai Abdurrachman diminta untuk mengisi pengajian di salah satu rumah warga sekitar yang berdekatan dengan lokasi pondok, beliau berjalan kaki untuk menghadirinya dan didampingi oleh beberapa santri sambil membawa lampu penerang yang berupa senter baterai bahkan  penerang lain yang berbahan bakar minyak tanah. Disepanjang perjalanan yang memakan waktu cukup lama,  setiba di rumah warga yang dituju, waktunya sudah agak kemalaman mereka yang mengundang memakluminya.

         Alat transportasi sepeda motor dan mobil yang masih langka dimiliki oleh warga secara umum, saat yang mengundang mempunyai kendaraan,  Kyai Abdurrachman sering dijemput dan diantar pulang di setiapa memberikan pengajian di ranting-ranting secabang Muhammadiyah Tembarak. Jadwal rutin mengisi pengajian di beberapa ranting  yang diisi oleh Kyai Abdurrachman, menjadi agenda rutin dan terjadual dan beliau laksanakan, meski agenda utama beliau adalah mengajar mengaji kepada para santri di pondok.

Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah di Mata Masyarakat.

         Berdirinya pondok Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak pada tahun 1982 yang mulai tersebar di luar wilayah kecamatan Tembarak kabupaten Temanggung dan beberapa daerah lain disekitarnya, seperti kabupaten Magelang, kabupaten Purworejo, kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang dan kabupaten lain. Ditahun itu pula Pimpinan cabang Muhammadiyah Tembarak yang diketaui oleh Sirbanun mempunyai niat kuat untuk mendirikan Madrasah Tsnawiyah (MTs). Majlis Dikdasmen cabang yang membidangi masalah pendidikan yang diketuai oleh Subandi, Nursalim dan Abu Saeri, mendapat kepercayaan penuh untuk mengurus ijin pendirian. Ijin operasional pendirian Madrasah Tsnawiyah dari Kementrian Agama akhirnya turun memberikan ijin pengesahan operasional, maka secara resmi Madrasah Tsnawiyah Al-Mu’min Muhammadiyah secara syah berhak menyelenggarakan pembelajaran yang tempatnya berada di pondok pesantren dan berada dalam satu lokasi dan satu gedung di pondok. Masjlis Dikasmen Daerah Temanggung yang memberikan dukungan penuh atas berdirinya Madrasah Tsanawiyah, memberikan berbagai dorongan terkait dengan masalah pendidikan yang wajib dilaksanakan. Kesempatan bagi para siswa yang telah selesai dan menamatkan pendidikanya ditingkat dasar madrasah ibtida’iyah atau sekolah dasar, secara langsung bisa melanjutkan pendidikannya ke madrasah tsanawiyah yang ada di pondok pesantren yang didirikan oleh Muhammaditah Cabang Tembarak.

Awal Mula  Pembelajaran di Madrasah Tsnawiyah

         Tiga orang tokoh yang terdiri dari Kyai Abdurrachman, Wiryo Sudarjo dan Rabussalim, mereka bertiga mengumpulkan sejumlah uang dengan jumlah tertentu untuk digunakan membeli sejumlah peralatan sekolah yang terdiri dari buku tulis, penggaris, pensil dan beberapa  alat tulis lainnya dengan jumlah yang cukup banyak. Peralatan sekolah tersebut diserahkan kepada Majlis Dikdasmen Muhammadiyah Cabang Tembarak untuk diberikan kepada anak-anak yang akan bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Al-Mu’min Muhammadiyah dengan cuma-cuma atau gratis. Para pimpinan Majlis Dikdasmen yang terdiri dari Subandi, Nursalim dan Abu Saeri, menerima bantuan tersebut, dengan lapang dada menerimanya dengan sambutan baik dan terima kasih. Dalam jangka waktu tertentu, dari kerja keras para pimpinan Majlis Dikdasmen Cabang Tembarak, akhirnya terkumpul sejumlah siswa Madrasah Tsnawiyah yang siap untuk belajar sebanyak 18 orang siswa yang terdiri dari; Rokiban, Muhlasin, Istachori, Sholihin, Taqwin, Nurcholis, Abrori, As’ari, Muslikhah, Hani’ah, Nastangin, Sarowiyati, Sri Nuryati, Istichofah, Intiyah, Muawanah, Rubaiyah, Siti Sakwanah, Sutarti dan Fitriyah. Kedelapan belas siswa pertama tersbut diberi buku dan alat tulis dari Majlis Dikdasmen Cabang.

         Dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan guru yang menjadi masalah di awal pendirian madrasah tsanawiyah, dengan kerja keras Majlis Dikdasem, terkumpulah sejumlah 18 orang guru dan siap untuk memberikan pengajaran. Mereka itu adalah: Mukri, Muh Syamsi, Subandi, Anhari, Titik Sumiati, Siti Zahri, Yatmin Budiyono, Muhtadi, Nasikhin, Jasri Fauzi, Kholil, Wahyu Wibowo, Zainal Muttaqien K, Purwota, Romadhon, Mursidin, Asfuri dan Maskhuri.

         Proses belajar mengajar  yang berlangsung pada waktu sore hari di Madrasah Ibtida’iyah Muhammadiyah Purwodadi, semua mebeler yang dipakai menggunakan milik MIM Purwodadi dan berlangsung selama empat bulan. Selebihnya dari empat bulan, proses belajar mengajar berpindah tempat dan berada di pondok yang letakknya di Dusun Temanggungan dan tanpa menggunakan meja dan bangku kelas. Keadaan ruang kelas yang hanya terdiri dari papan tulis, meja guru dan kursi guru sederhana dan belum ada sama sekali meja siswa dan kursi siswa, sebanyak 18 siswa tersebut tiap hari menerima pelajaran dengan  duduk di atas lantai kelas dan beralasakan tikar. Proses pembelajaran sepanjang hari yang seperti itu, tidak menurunkan semangat belajar  para siswa dan para guru.  Para siswa yang tidak mempermasalahkan terhadap kondisi yang ada, mendorong para guru termotifasi dan bersemangat untuk memikirkan jalan keluarnya supaya para siswa bisa belajar dengan layak.

         Tugas para guru yang tidak sebatas  mengajar dan mempunyai tugas lain untuk keberlangsungan proses pembelajaran bagi para siswa, kebutuhan alat tulis seperti kapur tulis erta yang lain menjadi tanggung jawab dari para guru juga. Dengan kebersamaan dan langkah yang sama, semua guru yang telah menyanggupkan diri menjadi guru di Madrasah Tsanawiyah Al-Mu’min Muhammadiyah, keadaan yang sedemikian rupa meskipun mereka mempunyai tugas di luas mengajar guna keberlangsungan pembelajaran,  kesemuanya merasakan kenikmatan menjalankan tugasnya dan diniatkan sebagai lahan berda’wah. Seseorang yang dipandang mempunyai kelebihan di dilingkungan warga Muhammadiyah, orang-orang tersebut sering diminatai infaknya oleh para guru untuk membeli berbagai keperluan madrasah seperti kapur tulis, kertas dan berbagai hal yang terkait. Tanggapan dari mereka yang yang dimintai bantuan, dengan senang hati bisa berinfak..Dorongan kepada para guru untuk tetap semangat,  menjadikan bertambah semangat pula dalam mengajar para siswa. Semangat para siswa dalam proses pembelajaran di setiap hari yang duduk di atas lantai dengan beralaskan tikar,  membangkitkan semangat pula kepada para guru dengan tulus dan ikhlas.

Santri Pertama Kali yang Menuntut Ilmu di Pondok

         Santri kalong yang sejak Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak resmi berdiri, yang semula terdiri dari beberapa orang dari lingkungan sekitar tak berapa lama menjadi semakin bertambah pula yang sebagian besar berasal dari lingkungan kecamatan Tembarak. Para siswa madrasah Tsnawiyah yang secara resmi menjadi siswa di madrasah, dengan melihat para santri kalong yang disetiap pagi hari  mereka pulang kerumah yang baru saja selesai belajar mengaji kitab dari pondok, meraka menjadi tertarik juga untuk ikut belajar mengaji seperti mereka.

         Seiring berjalannya proses pembelajaran yang dilakukan oleh Kyai Abdurrachman yang di setiap hari mengajarkan berbagai kitab kuning kepada para santri kalong, dengan dibukanya lembaga pendidikan madrasah tsanawiyah, beliau juga mengajarkan beberapa kitab kuning tingkat dasar pula kepada para siswa madrasah tsanawiyah di waktu siang hari secara klasikan. Sehingga dengan pengajaran yang diberikan oleh Kyai Abdurrohman tersebut, para siswa madrasah tnasawiyah menjadi memahami beberapa kitab kuning yang diajarkan yang sebelumnya tidak mengetahui sama sekali.

         Para siswa yang dengan belajar kitab kuning secara klasikal di dalam kelas menjadi mengetahui isi kitab yang diajarkan oleh Kyai Abdurrachman, model pembelajaran kitab tersebut menjadi semakin tersebar luas dilingkungan daerah asal para dan membuat daya tarik masyarakat di beberapa kampung. Melaui cara tersebut mereka yang sama sekali belum tahu kitab kuning yang ingin belajar kitab kuning, menjadi tertarik. Kebiasaan para santri kalong yang disetiap sore hari berdatangan ke pondok dan menyatu dengan para remaja yang lain yang lebih awal belajar kitab kuning yang diajarkan oleh Kyai Abdurrachan, menjadi pemandangan rotin yang setiap hari diketahui oleh para siswa madrasah tsnawiyah.

         Keadaan pondok pesantren yang sejak pagi hari ramai dengan proses belajar mengajar dari para siswa madrasah tsnawiyah,  sore hari hingga malam hari ramai juga dengan kegiatan kepondokan yang mempelajari berbagai kitab kuning. Semakin bertambahnya santri kalong yang belajar kitab dan datang ke pondok pula, Kyai Abdurrachman menerapkan model pembelajarannya melalui dua model. Model sorogan yang setiap santri menghadap langsung kepada beliau  dan bergantian satu persatu dan ada juga yang berkelompok disetiap mengaji  suatu kitab. Model kedua adalah pembelajaran klasikal, dimana proses pembelajaran yang disampaikan oleh Kyai Abdurrachman semua santri berada dalam satu tempat atau ruangan dan mereka menerima pengajaran sebuah kitab tertentu dari Kyai.

         Dua model inilah yang diterapkan oleh Kyai Abdurrachman di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak dalam memberikan pengajaran. Disela-sela waktu saat beliau tidak mengajar ngaji, beliau rajin menulis dan dibukukan dalam sebuah buku khusus sesuai dengan jenis kitabnya. Dari hasil tulisan yang telah dibuat, beliau menggandakan dalam lembaran kertas dengan difoto copi dan diberikan kepada para santri. Kebiasaan seperti inilah yang biasa dilakukan oleh Kyai Abdurrachman. Semua tulisan yang telah ditulis oleh beliau, mayoritas merupakan sebuah tulisan tangan yang memudahan bagi semua santri untuk mempelajari. Karena isi tulisannya merupakan sebuah cara praktis dan mudah untuk memahami dari sebuah masalah tertentu sesuai bidangnya, para santri menjadi lebih mudah untuk memahami tulisan ditulisa beliau untuk dipelajari dengan model sorogan atau klasikal sesuai dengan jenis kitabnya.

         Memasuki tahun kedua usia madrasah tsanawiyah pada tahun 1983, para siswa yang belajar ke madrasah tsnawiyah dan berasal dari luar kecamatan Tembarak mulai berdatangan. Dan santri yang hanya khusus belajar mengaji saja dan tidak bersekolah juga banyak. Mereka itu semata-mata hanya belajar mengaji dan mempelajri kitab kuning di Pondok Pesantren Al-mu’min Muhammadiyah.  Jadwal mengaji bagi para santri yang hanya  mengaji semata  yang waktunya lebih banyak dibanding dengan para santri lain yang mereka belajar di pondok  dan bersekolah, kegiatan mereka berjalan mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas pada waktu siang hari dan waktu kegiatannya sesuai aturan yang berlaku di madrasah tnasawiyah yang kurikulumnya berasal dari Kementrian Agama.

            Para siswa/santri yang berasal dari luar daerah yang datang ke pondok yang telah resmi menjadi santri dan terdaftar sebagai siswa di madrasah tsnawiyah dan sambil mengaji dan bersetatus sebagai santri, mereka menerima pelajaran-pelajaran kepondokan kitab kuning dan sejenisnya, waktu belajar mengajinya lebih sedikit dibanding dengan para santri lain yang hanya menjadi santri semata dan tidak terdaftar sebagai siswa di madrasah tsanawiyah. Meskipun yang mengajari kitab-kitab kuning juga beliau Kyai Abdurrachman.  Bertambahnya jumlah santri terus mengalami perkembangan untuk belajar di Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak dari tahun ketahun dan baru memiliki unit madrasah tsnawiyah, beberapa tahun kemudian para santri yang berasal dari daerah Kabupaten Temanggung mulai banyak yang masuk ke pondok. Pertimbangan mereka memasukkan putra-putrinya ke pondok pesantren karena diajarkan ilmu-ilmu agama sebagaimana yang diajarkan oleh Kyai Abdurrachman. Diajarkannya pelajaran  kitab kuning yang menjadi ciri khas Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah, melekat kepada sosok Kyai Abdurracman yang mempunyai kemampuan di bidangnya secara khusus.

            Beberapa tahun kemudian di tahun 1985, minat para santri yang berasal dari luar daerah Kabupaten Temangungg untuk belajar ke pondok semakin mendapat kepercayaan dari banyak masyarakat, mereka berasal dari kabupaten Magelang, Kabupaten Purworwjo, Kabupaten Kendal dan Kabupaten lain dan dari Karesidenan Kedu, bahkan santri dari Jakarta dan luar Jawa juga berdatangan  ke Pondok. Seperti dari Lampung, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur dan lainnya.

            Pengajaran kitab kuning yang diajarkan pula oleh Kyai Abdurrachman dengan sistem klasikal dan masuk di semua kelas pada unit Madrasah Tsnawiyah, mempermudah para santri  lebih cepat dalam memahami berbagai kitab kuning. Jenis-jenis kitab kuning tingkat pemula yang diajarkan oleh beliau Kyai Abdurrachman,  terdiri dari kitab Al-jurrumiyah/Jurrumiyah yang disusun oleh Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash shanhajji alias Ibnu Ajurum seorang ahli dan pakar bahasa dari Negara Maroko pada tahun 1324 M. Kitab ini membahas rumus dasar pelajaran bahasa arab klasik. Kitab Jurumiyah ini menjadi kitab wajib dilingkungan Pondok Al-Mu’min Muhammadiyah. Sedangkan kitab kuning yang membahas tentang fiqih, kitabnya bernama KitabTaqrib, penulis kitab ini adalah Abi Suja’, dia seorang Alim, Ahli Fiqih, Imam dan Syaikh Mazdhab Syafi’i, lahir di Basra Irak (1042-1107). Kitab Bulughul Maram penulis kitab ini Ibdu Hajar al –Asqolani (773 H-852H). Kitab Bulughul Maram ini merupakan kitab Hadits tematik yang memuat hadist yang dijadikan sumber pengambilan hukum fikih (istimbat). Kitab Alfiyah/Imriti, kitab ini ditulis oleh Syeh Muhammad Jamaludin ibdu Abdillah ibnu Malik Al-Thay yang berasal dari timur Negara Mesir. Berbagai jenis kitab kuning lain yang tingkatannya lebih lebih tinggi, diajarkan kepada para santri yang telah mengkhatamkan kitab-kitab dasar seperti yang disebutkan.

            Model mengaji sorogan yang sangat menguntungkan bagi para santri yang rajin, mereka akan lebih cepat untuk bisa mempelajari berbagai jenis kitab kuning yang tingkatannya lebih tinggi. Para santri yang mempunyai kemampuan lebih tinggi kitabnya, diwajibkan untuk mengajari kitab kuningnya kepada adik-adik kelas lain yang tingkatan kemampuan kitabnya lebih rendah. Model pembelajarn semacam ini, menambah keakraban antar sesama santri dan lebih leluasa untuk mempelajarinya.

            Anjuran  menela’ah kitab bagi semua santri yang telah selesai diajar oleh Kyai Abdurachman, berlaku bagi semua santri tanpa pandang bulu. Pada saat  para santri sama menela’ah kitab yang baru selesai diajarkan, suasana menjadi penuh keramaian karena semua santri pondok melafalkan berbagai jenis kitab sambil menela’ah. Adu saling tanya dan memahami isi yang terkandung di dalamnya, memenuhi bebera ruang yang terdiri dari beberapa kelompok mengaji kitab yang berada di ruangan. Bergantianya jadwal mengaji antara santri putra dan santri putri yang dipisahkan oleh ruangan yang berbeda, para santri yang menunggu gilirannya sudah berjejer rapi sambil menela’ah kitab kuning yang mau dijarkan oleh Kyai Abdurrachman.  Para santri yang mengalami kesulitan dalam memahami kitab yang dipelajarinya, para kakak kelas yang kemampuan kitabnya lebih tinggi menjadi tempat pertanyaan bagi para adik kelas untuk memecahkan permasalahan yang dialaminya, meskipun Kyai Abdurrachman menjadi aduan utamanya.

Penerapan Pembelajaran Kitab Kuning di Semua Unit Pendidikan

            Penerapan pengajaran kitab kuning dengan model klasikal dan sorogan, pengajarannya dimulai sejak berdirinya pondok pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah pada tahun 1982 yang diasuh pertama kali oleh beliau Kyai Abdurrohman dan dikembangkan oleh para guru yang membidangi keahlian pada kitab kuning klasik dan modern, yang membahas masalah ilmu tata bahasa arab, ilmu Fiqih, ilmu Aqidah, ilmu Muamalah, ilmu tafsir dan yang lainnya.

Penerapan pembelajaran kitab kuning tersebut, diajarkan oleh Kyai Abdurrachman sejak  para santri masuk ke pondok mulai dari unit Madrasah Tsanawiyah yang berdiri pada tahun 1982, dan unit Madrasah Aliyah yang berdiri  pada tahun 1986. Ciri khas pembelajaran yang mengajarkan kitab kuning dan merupakan identitas pondok pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung, penerapan dan model pembelajarannya dilaksanakan di semua unit pendidikan sejak mulai dari kepala sekolah madrasah tsanawiyah periode pertama tahun (1982-1983) dijabat adalah Jazri Fauzi / Subandi, periode tahun (1983-1999) kepala sekolah dijabat oleh Dulwahab, periode tahun (1999- 2004) kepala sekolah dijabat oleh Surandi,S.Ag, periode tahun (2004-2005) kepala sekolah dijabat oleh Miftahul Amili, periode tahun (2005-2007) kepala sekolah dijabat oleh Drs, Wahyu Cinto Gumono, periode tahun ( 2007-2020) kepala sekolah dijabat  oleh Samsul, M.Pd.

Madrasah Aliyah yang berdiri pada tahun 1986 dan merupakan salah satu unit pendidikan formal yang didirikan oleh pondok pesantren, ciri khas pembelajarannya juga mengajarkan kitab kuning yang merupakan identitas pondok, penerapan dan model pembelajarannya diberlakukan dan dilaksanakan mulai kepala sekolah periode pertama pada tahun (1986-1988) yang dijabat oleh Drs, Muhlasin, periode tahun (1988-1989) kepala sekolah dijabat oleh Abdul Manan, periode tahun (1989-2002) kepala sekolah dijabat oleh Syamsuri Adnan, periode tahun (2002-2020) kepala sekolah dijabat oleh Drs, Makmun Pitoyo, M,Pd.

            Sekolah menengah kejuruan yang berdiri pada tahun 2004 dan Kyai Abdurrachman telah wafat dan tidak mengalami, ciri khas pembelajarnya juga mengajarkan kitab kuning dan diberlakukan mulai kepala sekolah periode perintisan pertama pada tahun (2004-2012) yang dijabat oleh Drs, Makmun Pitoyo, M.Pd., Kepala sekolah periode penataan pada tahun (2012-2020) dijabat oleh Heri Rusmanto, S.Pd, M.Md.

            Para Direktur Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak Temanggung sejak periode perintisan pertama pada tahun (1989-2001) yang dijabat oleh Joni Sukaton, Direktur pondok perode perintisan kedua pada tahun (2001-2006) yang dijabat oleh Drs. Zaenudin, Direktur pondok periode pemantapan tahun (2006-2009) yang dijabat oleh Miftahul Amili, Direktur pondok periode pengembangan tahun (2009-2020) yang dijabat oleh Syamsuri Adnan, S.Pd., kesemuanya mengajarkan pembelajaran kitab kuning sebagai ciri khas yang dimiliki oleh Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah walaupun kitab-kitab jenis lainnya juga diajarkan kepada para siswa / santri.

Kefektifan penerapan pembelajaran kitab kuning

            Sejak pondok pesantren mendirikan madrasah tsanawiyah pada tahun 1982, para siswa yang berasal dari lingkungan sekitar pondok telah diajari kitab kuning oleh Kyai Abdurrachman secara klasikal dan model sorogan. Dalam perkembangnnya setelah para santri banyak yang berasal dari berbagai daerah di luar Kabupaten Temanggung hingga dari luar Pulau Jawa, mereka secara penuh mendapatkan pengajaran kitab kuning selama menjadi santri dengan melalui dua model, yaitu klasikan dan sorogan. Sehingga beberap jenis kitab kuning wajib yang harus dipelajari oleh para santri, diajarkannya kepada semua santri supaya mereka mempunyai kemampuan paham terhadap kitab kuning yang sering dianggap asing.

            Bagi para santri yang berasal dari madrasah tsanawiyah dan melanjutkan ke madrasah aliyah yang  berdiri pada tahun 1986, mereka mempunyai kemampuan lebih dalam mempelajari kitab kuning. Karena kitab kuning yang diajarkan oleh Kyai Abdurrachman tingkatannya lebih tinggi dibanding yang diajarkan kepada para santri tingkat madrasah tsnawiyah.

Kitab Monumental

            Kitab Faroid yang mulai diajarkan oleh Kyai Abdurrachman kepada para santri di tingkat Madrasah Aliyah, kitab tersebut tidak hanya memahami arti dan makna yang terkandung pada lafal dan kalimatnya. Akan tetapi kitab faroid tersebut memerlukan pemahaman berkesinambungan yang terikat dan menyatu di semua bab dan mulai dari bab pertama sampai bab terakhir yang tidak boleh timpang dalam memahami. Jika terdapat  kesalahan pemahaman pada bab dasarnya, seperti pada bab Furudhul Muqodaroh, bab Ashobah dan bab Khijab dan Mahjub   akan berakibat salah secara keseluruhan kepada bab pembahasan lainnya atasnya.

            Ketelitian dan kecermatan dalam memahami dan mempelajri kitab ilmu faroid yang diajarkan oleh Kyai Abdurrohman, memerlukan konsentrasi penuh dan teliti serta sering kali untuk dikaji. Tanpa melalui hal-hal tersebut akan sulit untuk bisa memahami ilmu faroid. Setiap mempelajari pada bab tertentu,  pembelajarannya sering kali diulang-ulang dan sudah menjadi hal biasa dalam belajar ilmu faroid dari Kyai Abdurrachman. Karena kitab tersebut membutuhkan pemahaman yang sangat mendalam  Sebelum para santri tingkat madrasah aliyah diberi pelajarkan ilmu faroid, para  remaja dan para orang tua dari lingkungan sekitar yang berdekatan dengan Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak dan sekitarnya, mereka lebih dahulu berguru dan belajar kepada Kyai Abdurrohman pada hari-hari tertentu dan berlangsung satu kali dalam satu minggu.

            Kyai Abdurrachman yang merupakan salah satu kyai yang menguasai dan paham terhadap ilmu faroid, oleh banyak orang di kalangan diakui keahlian ilmunya. Oang-orang yang sering kali meminta bantuan kepada Kyai Abdurrohman untuk menyelesaikan persoalan yang berkaitan dengan masalah harta pusaka, beliau Kyai Abdurrachman mampu memberikan jalan penyelesaiannya dengan baik dan diterima sesuai aturan yang benar berdasarkan Al-Qur’an.

            Para ahli waris yang pada awalnya hidup damai, dengan adanya harta pusaka yang ditinggal oleh orang tua jika tidak dibagi secara adil akan meimbulkan kekacauan dalam keluarga tersebut. Salah satu jalan pemecahannya adalah diselesaian secara adil sesuai dengan aturan yang ada dan telah diatur dalam Ilmu Faroid yang membahas tentang masalah-masalah harta pusaka secara terperinci  bagi para ahli waris, saudara dan orang lain yang menjadikan sebab-sebab bisa mendapatkan harta pusata atau sebab-sebab tidak bisa mendapatkan harta pu tidsaka.

            Ilmu Faroid yang diajarkan oleh beliau Kyai Abdurrachman, berpijak pada Al-Qur’an Surat Annisa’ ayat : 11:

يُوصِيكُمُ ٱللَّهُ فِيٓ أَوۡلَٰدِكُمۡۖ لِلذَّكَرِ مِثۡلُ حَظِّ ٱلۡأُنثَيَيۡنِۚ فَإِن كُنَّ نِسَآءٗ فَوۡقَ ٱثۡنَتَيۡنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَۖ وَإِن كَانَتۡ وَٰحِدَةٗ فَلَهَا ٱلنِّصۡفُۚ وَلِأَبَوَيۡهِ لِكُلِّ وَٰحِدٖ مِّنۡهُمَا ٱلسُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِن كَانَ لَهُۥ وَلَدٞۚ فَإِن لَّمۡ يَكُن لَّهُۥ وَلَدٞ وَوَرِثَهُۥٓ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ ٱلثُّلُثُۚ فَإِن كَانَ لَهُۥٓ إِخۡوَةٞ فَلِأُمِّهِ ٱلسُّدُسُۚ مِنۢ بَعۡدِ وَصِيَّةٖ يُوصِي بِهَآ أَوۡ دَيۡنٍۗ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ لَا تَدۡرُونَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ لَكُمۡ نَفۡعٗاۚ فَرِيضَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ١١

11.Artinya:” Allah mensyari´atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksan”. (QS. An-Nisa’ (4 ):11).

            Kegigihan beliau Kyai Abdurrachman menyusun buku faroid ini termotifasi oleh satu sebuah hadist nabi yang  diriwayatkan oleh  Abu Huroiroh radhiyalluanhu berkata. “Belajarlah ilmu faroid, karena ilmu faroid merupakan separo atau setengah dari ilmu yang akan dilupakan oleh manusia dan merupakan ilmu yang akan pertama kali dicabut dari ummatku”. (HR Ibnu Majah dan Ad-daruqutni)

            Salah satu hadist lain yang menjelaskan pentingnya ilmu faroid,  diriwayatkan oleh Bahwa Nabi Sholalallahu, Alaihi wa Salam bersabda,“ Pelajarilah ilmu faroid serta ajarkanlah kepada orang-orang, karena aku adalah orang yang akan direnggut (mati) , sedang ilmu itu akan diangkat dan fitnah akan tampak, sehingga dua orang yang bertengkar tentang pembagian harta pusaka (warisan), mereka berdua tidak menemukan seorangpun yang sanggup melerai mereka,” (HR. Imam Ahmad, At Tirmidzi dan Al Hakim.)

            Buku Ilmu Faroid yang ditulis oleh Kyai Abdurrohman, diselesaikan sekitar selama enam tahun sejak mulai beliau menjadi pengasuh pondok pada tahun 1982 dan diterbitkan pada tahun 1988 dengan menggunakan tulisan tangan setebal  82 halaman. Buku tersebut dicetak kembali pada tahun 1996 dengan  revisi sebelum beliau wafat pada bulan Juli 1999.

Keterangan :

1.    Santri Kalong : Santri yang belajar di pondok hanya pada waktu malam hari dan di siang harinya pulang ke rumah.

(Penulis : Khamid ,  diambil dari berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *